Translate

Minggu, 30 September 2012

materi pertama patologi sosial


DEVIASI TINGKAH LAKU
(TINGKAH LAKU MENYIMPANG)

            Di sekitar kita terdapat berbagai macam perilaku yang bermunculan dan dapat kita amati. Dari pengertian yang luas, perilaku atau aktivitas-aktivitas tersebut terdiri dari perilaku yang nampak (overt behavior) dan perilaku yang tidak nampak (inert behavior). Selanjutnya dalam realitas kehidupan yang terjadi dalam masyarakat, perilaku-perilaku individu tersebut muncul sebagai perilaku yang bersifat kita kehendaki/sesuai (appropriate behavior) dan terdapat pula perilaku yang tidak kita kehendaki (un appropriate behavior) (Walgito, 2003:18). Kedua jenis perilaku tersbut ditentukan dengan tolak ukur norma dan nilai yang berkembang dalam masyarakat, ketika perilaku yang dikehendaki muncul akan menimbulkan efek positif, sebaliknya perilaku yang tidak dekehendaki akan menimbulkan dampak negative, bagi individu itu sendiri ataupun bagi masyarakat/orang lain.
            Terkait dengan hal diatas, terdapat beberapa hal yang akan dibahas mengenai perilaku, khususnya perilaku yang tidak dikehendaki terkait dengan penyimpangan-penyimpangan perilaku yang dilakukan oleh individu atau dapat pula disebut dengan Deviasi Tingkah Laku.

A.      PENGERTIAN DEVIASI
Dalam kehidupan masyarakat muncul dan berkembang suatu karakteristik, nilai dan norma yang diyakini dan dianut oleh masyarakat tersbut yang mengatur dan membatasi perilaku individu. Namun tidak jarang dalam kehidupan masyarakat tersbut terjadilah penyimpangan dan perbedaan dalam berperilaku.
Kartini Kartono (2007:11) mengartikan deviasi atau penyimpangan merupakan tingkah laku yang menyimpang dari tendensi sentral atau ciri-ciri karakteristik rata-rata dari rakyat kebanyakan/populasi. Dalam Kamus Besar Indonesia, perilaku menyimpang diartikan sebagai tingkah laku, perbuatan, atau tanggapan seseorang terhadap lingkunganyang bertentangan dengan norma-norma dan hukum yang ada di dalam masyarakat.
Perilaku menyimpang yang juga biasa dikenal dengan nama penyimpangan sosialhakikatnya merupakan perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kesusilaan ataukepatutan, baik dalam sudut pandang kemanusiaan (agama) secara individu maupun pembenarannya sebagai bagian daripada makhluk sosial (dalam http://wikepedia.com ). Sejalan dengan pendapat diatas Hendropuspito (1989) mengartikan deviasi ialah Suatu tindakan yang dilakukan oleh perorangan atau kelompok diluar, melawan kaidah sosial yang berlaku di masyarakat.
Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa deviasi atau perilaku menyimpang adalah perilaku yang dilakukan individu yang bertentangan/menyimpang dari ciri karakteristik masyarakat kebanyakan dan norma/nilai yang berkembang dalam masyarakat tersebut. Sebagai contoh deviasi/perilaku menyimpang adalah perkawinan dibawah umur, homoseksualitas, alkoholisme kronis, anak usia 7 tahun yang tidak bersekolah, dan lain sebagainya,

B.       ASPEK-ASPEK TINGKAH LAKU YANG MENYIMPANG
 Ciri-ciri tingkah laku yang menyimpang itu bisa dibedakan tegas, yaitu :
1.    Aspek lahiriah, bisa diamati dengan jelas.
Aspek ini dibagi dalam dua kelompok, yaitu :
a.    Deviasi lahiriah yang verbal dalam bentuk : kata-kata makian, slang (logat, bahasa populer), kata-kata kotor yang tidak senonoh dan cabul, sumpah serapah, dialek-dialek dalam dunia politik dan dunia kriminal, ungkapan-ungkapan sandi, dan lain-lain.
Misalnya, penamaan “babi” untuk pegawai negeri atau pemerintahan “singa” untuk tentara “serigala”, untuk polisi “kelinci”, untuk orang-orang yang bisa dijadikan mangsa (dirampok atau dicopet, digarong), dan seterusnya.
b.    Deviasi lahiriah yang nonverbal : semua tingkah laku yang nonverbal yang nyata kelihatan.
2.    Aspek-aspek simbolik yang tersembunyi.
Mencakup sikap-sikap hidup, emosi-emosi, sentimen-sentimen, dan motivasi-motivasi yang mengembangkan tingkah laku menyimpang. Berupa mens rea (pikiran yang paling dalam dan tersembunyi), atau berupa iktikad kriminal di balik semua aksi-aksi kejahatan dan tingkah laku menyimpang.
Hendaknya selalu diingat, bahwa sebagian besar dari tingkah laku penyimpangan (ex: kejahatan, pelacuran, kecanduan narkoba, dan lain-lain) itu tersamar dan tersembunyi sifatnya, tidak kentara atau bahkan tidak bisa diamati.

C.      MACAM-MACAM DEVIASI DAN LINGKUNGANNYA
 Deviasi / penyimpangan tingkah laku itu sifatnya bisa tunggal, misalnya hanya kriminal saja dan tidak alkoholik atau mencandu bahan-bahan narkotik. Namun juga bisa jamak sifatnya, misalnya seorang wanita tunasusila sekaligus juga kriminal.
Deviasi dapat dibedakan dalam tiga kelompok, yaitu :
1.      Individu-individu dengan tingkah laku bermasalah yang merugikan bagi orang lain, akan tetapi tidak merugikan diri sendiri.
2.      Individu-individu dengan tingkah laku menyimpang yang menjadi masalah bagi diri sendiri, tetapi tidak untuk orang lain.
3.      Individu-individu dengan deviasi tingkah laku yang menjadi masalah bagi diri sendiri dan bagi orang lain.
Deviasi tingkah laku selalu berlangsung dalam satu konteks sosio-kultural dan antarpersonal. Sehubungan dengan lingkungan sosio-kultural ini, deviasi tingkah laku dapat dibagi menjadi :
1.         Deviasi Individual
Beberapa deviasi ditimbulkan oleh cirri-ciri yang unik dari individu yang berasal dari anomali-anomali, variasi-variasi biologis, dan kelainan-kelainan psikis tertentu yang sifatnya ada sejak lahir. Kelainan cirri juga disebabkan oleh penyakit dan kecelakaan.
Devisasi jenis ini sifatnya simptomatik yaitu disebabkan oleh konflik-konflik intra psikis yang kronis dan sangat dalam atau berasal dari konflik-konflik yang ditimbulkan oleh identifikasi-identifikassi yang kontroversal bertentangan satu sama lain. Individu yang termasuk deviasi individual misalnya : anak-anak luar biasa, fanatisi, idiot savant dan individu-individu psikotis.
2.         Deviasi Situasional
Deviasi jenis ini disebabkan oleh pengaruh bermacam-macam kekuatan situasional/sosial diluar individu atau oleh pengaruh situasi,dimana pribadi yang bersangkutan menjadi bagian integral dari dirinya.
Situasi dan kondisi sosial atau sosiokultural yang selalu berulang-ulang dan terus-menerus akan mengkondisionisasi dan memperkuat deviasi-deviasi sehingga kumulatif sifatnya. Deviasi sosial yang kumulatif itu merupakan produk dari konflik cultural yaitu produk dari periode-periode dengan banyak konflik cultural. Konflik budaya atau cultural ini dapat diartikan sebagai:
a.       Konflik antara individu dengan masyarakat.
b.      Konflik antara nilai-nilai dan praktik-praktik dari atau lebih kelompok-kelompok sosial.
c.       Konflik-konflik introjeksi yang berlangsung dalam diri seorang yang hidup dalam lingkungan sosial penuh dengan nilai dan norma-norma yang bertentangan.
Apabila tingkah laku menyimpang ini berlangsung secara meluas dalam masyarakat, maka dapat menyebabkan deviasi situasional kumulatif. Berikut beberapa contoh deviasi situasional :
a.       Kebudayaan korupsi.
b.      Pemberontakan anak remaja.
c.       Adolescent revolt.
d.      Deviasi-deviasi seksual disebabkan oleh penundaan saat perkawinan jauh sesudah kematangan biologis serta pertimbangan-pertimbangan ekonomis dan banyak disimulasi oleh rangsangan-rangsangan dari film “biru”, buku-buku porno dan tingkah laku yang asusila.
e.       Peristiwa homoseksual yang banyak terjadi dikalangan narapidana di penjara-penjara.
3.         Deviasi Sistematik
Deviasi sistematik pada hakikatnya adalah satu subkultur atau satu sistem tingkah laku yang disertai organisasi sosial khusus, status formal, peranan-peranan, nilai-nilai, rasa kebanggaan, norma dan moral tertentu yang semuanya berbeda dengan situasi umum. Segala pikiran dan perbuatan yang menyimpang dari norma umum, kemudian dirasionalisasi atau dibenarkan oleh semua anggota kelompok dengan pola yang menyimpang itu. Sehingga penyimpangan tingkah laku deviasi-deviasi itu berubah menjadi deviasi yang terorganisasi atau deviasi sitematik. Pada umumnya, kelompok-kelompok deviasi itu mempunyai peraturan-peraturan yang sangat ketat, sangsi, dan hukum-hukum yang sangat berat yang diperlukan untuk bisa menegakkan konformitas dan kepatuhan anggota-anggotanya.
Kelompok-kelompok deviasi itu pada umumnya memiliki pola organisasi yang unik, kode-kode etik, norma-norma, dan kebiasaan-kebiasaan yang aneh untuk menegakkan gengsi dan status sosialnya. Biasanya organisasi-organisasi demikian merupakan pecahan organisasi induknya, yang kemudian menyimpang dari pola aslinya, karena alasan-alasan menolak kebekuan dalam organisasi induknya.
Proses perpecahan atau pembelahan semacam ini tidak hanya berlangsung pada organisasi-organisasi saja, akan tetapi juga berlangsung disegenap lapisan masyarakat. Penyebab deviasi sistematik, yaitu :
a.       Kesulitan untuk berkomunikasi.
b.      Tidak adanya urgensi serta kurangnya motivasi untuk mengorganisasi diri.
   Selain macam deviasi diatas, terdapat macam deviasi yang lain berdasarkan sifatnya, yaitu :
a.       Deviasi Postif, adalah penyimpangan yang mempunyai dampak positif ter-hadap sistem sosial karena mengandung unsur-unsur inovatifkreatif, dan memperkayawawasan seseorang. Penyimpangan seperti ini biasanya diterima masyarakat karena sesuai perkembangan zaman. Misalnya emansipasi wanita dalam kehidupan masyarakat yang memunculkan wanita karier.
b.      Deviasi Negatif, adalah penyimpangan yang bertindak ke arah nilai-nilai sosial yang dianggap rendah dan selalu mengakibatkan hal yang buruk.
Bentuk penyimpangan yang bersifat negatif antara lain sebagai berikut:
·         Penyimpangan primer (primary deviation). Penyimpangan primer adalah penyimpangan yang dilakukan seseorang yang hanya bersifat temporer dan tidak berulang-ulang.
·         Penyimpangan sekunder (secondary deviation). Penyimpangan sekunder adalah perilaku menyimpang yang nyata dan seringkali terjadi, sehingga berakibat cukup parah serta menganggu orang lain. Misalnya orang yang terbiasa minum-minuman keras dan selalu pulang dalam keadaan mabuk,










DAFTAR PUSTAKA
Kartono, Kartini. 2005. Patologi Sosial. Jakarta : RajaGrafindo Persada
Walgito, Bimo. 2003. Psikologi Sosial (Suatu Pengantar). Yogyakarta 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar